Handuk Baru Untuk ibu

Lebaran adalah momen yang sangat berkesan bagiku. Setidaknya mengingatkanku akan kisah masa kecilku. Mengingatkanku pada ibuku yang pendiam.

Ya, ibu sangat pendiam dan pasrah. Bahkan ketika dipaksa bercerai dari ayah pun ibu lakukan dengan ikhlas, meski aku tahu ibu sering memeluk foto ayah dalam setiap tidurnya. Atau ketika ibu dan anak-anaknya, yaitu aku dan adik kembarku harus meninggalkan rumah yang kami tempati bersama ayah tepat satu minggu sebelum lebaran ketika usiaku menginjak umur 5 tahun, ibu lakukan dengan diamnya.

Ibu sangat pendiam, meski tahu bahwa nenek, ibunya ayah sangat tidak suka dengan ibu yang berasal dari keluarga yang miskin. Satu-satunya dari keluarga ayah yang menyayangi ibu adalah kakek. Kakek selalu membela ibu, sehingga adik-adik ayah dan juga nenek menjadi kurang suka. Hingga sesaat setelah kakek meninggal, ibu dipaksa untuk cerai dengan ayah. Ibu menolak, namun penolakan itu berujung pada kekerasan verbal dan fisik hingga ibu menyerah demi kami.

Lebaran itu, satu minggu setelah kami pergi dari rumah dan ibu menandatangani surat cerai, ayah diperkenalkan dengan wanita pilihan nenek, lantas mereka menikah enam bulan kemudian. Entah bagaimana perasaan ayah pada saat itu, namun ayah pun tak menolak. Ibu bilang, itu adalah wujud bakti anak laki-laki kepada ibunya. Meski aku tahu, ibu mengatakannya dengan sakit.

Ibuku hebat. Bekerja keras untuk menafkahi kami. Adik kembarku perempuan, dan sering kali merengek untuk dibelikan baju baru atau mainan baru. Aku bisa dikatakan menuruni sifat ibu yang pendiam dan tak banyak mau. Mungkin karena aku diam-diam selalu menjadi saksi air mata ibu yang menetes setiap malam dibandingkan adikku. Pelan-pelan, aku memahami betapa kerasnya perjuangan ibu membesarkan 2 anak sendirian.

Ibu tak pernah berhenti mencintai ayah, meskipun  tak pernah lagi bisa bertemu setelah bercerai paksa. Yang tidak ayah dan keluarganya ketahui, kami setiap bulan selalu menengok rumah dari kejauhan. Sekedar mengintip sosok ayah di setiap hari minggu akhir bulan, saat ibu terima gaji. Meski kutahu ibu pasti sakit melihat ayah menggendong adik tiri kami yang lucu-lucu itu, atau menggandeng mesra istri barunya. Namun ibu selalu memperlihatkan senyum bahagia ketika melihat sosok ayah, meski dari kejauhan. Dan di setiap lebaranpun, kami melakukan hal yang sama.

Kami tak punya banyak uang. Sehingga saat lebaran, kami hanya pergi ke masjid, lalu naik angkot menuju ke rumah ayah, dan di tempat biasa kami mengintip aktivitas lebaran ayah dan keluarga. Lalu ibu mengajak kami makan di restoran ayam untuk merayakan lebaran. Restoran yang bagi kami sudah sangat mewah. Ibu hanya tersenyum memandangi kami yang makan dengan lahap sambil mengusap kepala kami. Entah apa yang ada dalam pikiran ibu, aku tak pernah memahaminya.

Setiap hari ulang tahun ayah, ibu selalu membuat tumpeng nasi kuning dengan lauk tempe dan tiga potong ayam. Kami merayakannya tanpa ayah. Saat itu kami berdoa, dan tertawa ketika ibu menceritakan tentang ayah pada saat kami masih kecil. Kuingat lagi saat ini, ternyata miris juga waktu itu. Tapi kami rupanya tak merasakan itu, karena ibu dengan tulus bercerita memakai senyuman dan tawanya yang riang.

Saat aku berumur 17 tahun, aku beranikan diri untuk menemui ayah pada hari lebaran. Ayah terlihat terkejut, namun bahagia. Tapi sayang, ibu marah besar. Dan kemarahan ibu disusul dengan kedatangan nenek beserta tanteku yang galak. Mereka memarahi ibu dan mengancam agar menjauhi ayah. Ibu memohon padaku sambil berlutut dan menangis untuk tidak lagi menemui ayah. Cukuplah melihat dari jauh seperti biasanya, kata ibu. Adikku menangis melihat ibu melakukan hal itu. Kami kemudian hanya menangis dan terdiam. Ibu memeluk kami dan mengatakan bahwa ibu menerima semua itu dengan ikhlas. Tapi aku tidak. Dalam hati kecilku, aku tidak bisa menerimanya.

Betapa tidak? Mereka telah membuat ibuku sakit. Mereka tak tahu betapa sakitnya aku ketika ibu selalu minta maaf padaku dan adikku karena ibu tak punya uang untuk sekedar membeli baju lebaran,, atau mainan, atau bahkan buku pelajaran. Mereka tidak tahu ketika ibu dimarahi majikannya karena kerjanya tidak baik hanya karena ibu sakit dan memaksakan bekerja demi menghidupi kami. Mereka tidak tahu, kami sering harus makan hanya dengan nasi putih tanpa lauk, tanpa sayur. Hanya dengan garam, karena ibu tak punya banyak uang dan harus berhemat demi pendidikan kami.

Masih tergambar jelas lebaran pertama kami tanpa ayah, kami tinggal di rumah lama orang tua ibu yang sudah tiada. Rumah kotak dari anyaman bambu usang yang banyak berlubang, dengan atap hanya kardus berlapis plastik yang disusun-susun. Sebuah sumur tua disamping rumah kami jadikan tempat mandi. Ibu sendiri yang menyusun kardus-kardus itu menjadi ruang mandi untuk kami. Kami tidur di atas dipan reyot tanpa kasur. Hanya berlapis kain handuk dan berselimutkan pakaian usang. Tanpa baju baru, ataupun opor ayam.

Ibu adalah satu-satunya motivasiku. Adikku kini telah menjadi tukang rias yang cukup sukses di kota kami. Dan aku sudah satu tahun bekerja di sebuah perusahaan internasional di ibu kota. Kami sepakat untuk menyisihkan gaji kami untuk membangunkan rumah yang layak bagi ibu. Aku bertanya pada ibu tentang rumah seperti apa, ibu hanya tertawa sambil berkata tidak perlu. Kemudian satu hal yang ibu katakan yang membuatku tersadar betapa luar biasanya ibuku.

"Ibu cuma ingin dibelikan handuk baru".

Kami tersadar bahwa handuk ibu sudah sangat tipis, usang, berwarna coklat dan robek-robek. Kami beberapa kali mengganti dari handuk anak-anak hingga handuk besar. tapi kami baru menyadari bahwa handuk ibu tak pernah berganti sejak terakhir kuingat handuk itulah yang menjadi alas kami tidur. Kupeluk ibu dan adikku mulai bersimpuh di pangkuan ibu. Hanya untuk sebuah handuk baru, ibu menunggunya hingga 20 tahun lebih.

"Ibu mau menengok ayah? Kakak bawa mobilnya kemari ya, bu."kata adikku disambut anggukan dan senyuman ibu.

Lebaran tahun ini masih sama dengan lebaran tahun-tahun lalu, hanya mengintip sosok ayah di balik gang. Melihat ayah keluarganya merayakan lebaran dengan gembira. Kulihat wajah ibu yang semakin menua, sungguh damai, tidak ada dendam, tidak nampak kesedihan. Ah ibu, cintamu sungguh luar biasa. Lantas kami bawa ibu ke supermarket untuk sebuah handuk terbaik yang ada disana. Kulihat wajah ibu sangat bahagia. Selamat hari lebaran, ibu.
Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
August 9, 2017 at 6:39 PM delete

Saya Atas nama IBU SITI AISYA ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di SINGAPURA jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga di kampun,jadi TKW itu sangat menderita dan di suatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak di sengaja saya melihat komentar orang tentan AKI SOLEH dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di SINGAPURA,akhirnya saya coba untuk menhubungi AKI SOLEH dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg di berikan AKI SOLEH 100% tembus (4D) <<< 2 8 7 4 >>> saya menang togel (150,juta) meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan AKI SOLEH kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik AKI SOLEH sekali lagi makasih yaa AKI dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja AKI SOLEH DI 082-313-336-747- insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW trimah kasih banyak atas bantuang nomor togel nya AKI wassalam.


Reply
avatar